Preeklampsia, Penyebab Utama Kematian Ibu Hamil dan Janin

Preeklampsia, Penyebab Utama Kematian Ibu Hamil dan Janin

Preeklampsia, sering disebut pula keracunan kehamilan, adalah komplikasi yang terjadi pada kehamilan dan bisa berdampak pada ibu dan bayi.  Kondisi ini terjadi secara progresif, ditandai tekanan darah tinggi, bengkak seluruh tubuh dan adanya protein di urine.


Penyebab preeklampsia belum jelas, banyak teori yang menyatakan bahwa kehamilan, plasenta, dan janin adalah penyebabnya.


Jika tidak tertangani dengan baik preeklampsia dapat menjadi eklampsia yang merupakan salah satu dari 5 penyebab terbanyak kematian ibu dan janin. Menyebabkan kurang lebih 13% kematian ibu di seuruh dunia, atau kematian ibu setiap 12 menit.  Kira2 5-8% kehamilan bisa mengalami komplikasi preeklampsia di dunia, sedangkan di Indonesia mungkin lebih tinggi.


Kematian ibu pada preeklampsia krn komplikasi eklampsia, edema paru, gagal ginjal, gangguan fungsi liver, atau infeksi. Eklampsia adalah kejang yang terjadi pada ibu dengan preeklampsia, bisa mengarah ke perdarahan otak. Edema paru menimbulkan gejala sesak nafas heat, karena masuknya cairan ke paru. Ini terjadi karena pada preeklampsia terjadi kebocoran cairan krn rusaknya dinding pembuluh darah. Preeklampsia juga penyebab utama bayi dilahirkan prematur oleh dokter, karena itu angka kematian janin jg tinggi.


Faktor risiko Preelampsia: Hamil pertama, obesitas, kehamilan kembar, riwayat hipertensi sebelumnya, diabetes, penyakit ginjal, lupus, kehamilan pada usia remaja atau usia tua.


Preeklampsia biasanya muncul setelah 20 minggu, dan menghilang setelah lahir. Umumnya gejala utama preeklampsia adalah naiknya tekanan darah > 140/90, bengkak seluruh tubuh, dan protein dalam air kencing (urine).  Gejala lain meliputi nyeri kepala, pandangan kabur, nyeri perut bagian atas kanan, yang bisa berujung pada kejang (eklampsia).


Satu-satunya penanganan preeklampsia yang efektif adalah mengakhiri kehamilan (melahirkan bayi). Karena preeklampsia sering didapat pada saat hamil muda, maka sering kali berujung lahirnya bayi prematur dengan angka kematian tinggi. Jika didapat gejala preeklampsia, maka wajib dilakukan perawatan intensif di RS. Obat anti kejang waijb diberikan pada kasus ini. Obat penurun tekanan darah juga diberikan jika tekanan darah ibu terlalu tinggi untuk menurunkan risiko kejang dan stroke. Kondisi penyakit yg berat atau disertai komplikasi, maka pilihan utama adalah mengakhiri kehamilan dengan risiko bayi lahir prematur. 


Cara terefektif untuk mencegah preeklampsia adalah kontrol rutin saat hamil, dan melakukan pemeriksaan tekanan darah tiap kontrol. Peningkatan tekanan darah >140/90 sudah wajib mendapat penanganan/pengawasan lebih lanjut di RS.


dr. Aldika Akbar SpOG

Dokter Kandungan Surabaya

Komentar

  • indah
    indah
    Rabu, 06 Mei 2015

    Dok, tahun 2013 saya preklampsi dan melahirkan dengan operasi saat bayi 36/37 minggu. Jika saat ini ingin hamil lg, apa sebelumnya harus konsultasi dengan obgyn supaya bs mengurangi resiko preklampsi lg? Apa hrs dgn obgyn fetomaternal? Thanks

Tambahkan Komentar

Testimonial