Persalinan Sesar

Persalinan Sesar

Persalinan Sesar, hampir semua orang telah mengenal makna kata tersebut, karena pengalaman pribadi, keluarga, atau teman di sekitar kita yang mengalaminya. 


Seperti yang telah diketahui, persalinan sesar adalah tindakan pembedahan yang bertujuan untuk melahirkan bayi (mengeluarkan janin dalam perut ibu). 


Tindakan ini memerlukan pembiusan secara regional atau general (ibu dalam keadaan tertidur), kemudian dilakukan irisan pada kulit perut bisa secara vertikal ataupun horisontal pada perut bawah, dan irisan pada rahim untuk mengeluarkan janin. 


proxy?url=http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-zPCvXz8LMic%2FUstFPjsCWVI%2FAAAAAAAAAI0%2F7soAEK9cKN8%2Fs1600%2Foperation-generic-450-pic-getty-images-219989645-120461.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Biasanya tindakan ini dikerjakan jika didapatkan masalah pada ibu atau janin sebelum, atau saat persalinan, dan bisa secara terencana atau mendadak (emergency).


Perlu diketahui bahwa tiap kehamilan, tiap persalinan, selalu memiliki risiko. Meskipun ibu dan bayi dalam pemeriksaan kehamilan tidak pernah ada masalah, tidak ada penyakit, selalu dalam kondisi baik, maka saat bersalin pasti akan memiliki risiko pada ibu maupun janin. 


Tidak ada persalinan yang bebas dari risiko. Risiko yang menyebabkan persalinan harus segera diakhiri, janin harus segera dilahirkan, dengan tindakan operasi sesar.  Dengan kata lain, bagaimana pun baiknya kondisi ibu, tetap memiliki sejumlah risiko untuk melahirkan secara sesar.
 


Ibu yang ingin melahirkan normal memiliki risiko memerlukan tindakan operasi sesar secara mendadak (tidak terencana/darurat), beberapa contoh umum penyebabnya:

  • Terjadi kemacetan persalinan. Bisa disebabkan kontraksi yang terlalu lemah, janin yang terlalu besar, panggul ibu yang sempit, posisi janin yang tidak normal, ada massa/benjolan di rahim yang menghalangi turunnya bayi, dll.
  • Terjadi kegawatan janin, bisa diketahui dari pemeriksaan detak jantung janin yang abnormal.
  • Posisi bayi abnormal (melintang, atau sungsang)
  • Perdarahan per vaginam. Bisa terjadi jika posisi plasenta (ari-ari) di bawah, atau terjadi pelepasan plasenta sebelum waktunya.
  • Keadaan kegawat daruratan medis yang mengancam nyawa ibu maupun janin.
  • Penyakit ibu yang berat.
  • Penyakit janin dimana tidak mungkin dilahirkan secara normal (misal ukuran kepala sangat besar pada hidrocephalus dll).

Ada pula persalinan sesar yang terencana, sudah direncanakan oleh dokter disebabkan adanya peningkatan risiko pada ibu atau janin jika dilahirkan secara normal. Ada beberapa keadaan/situasi dimana dokter akan menyarankan tindakan sesar terencana ini:

Ibu dengan riwayat sesar sebelumnya. Hanya sebagian kecil ibu dengan riwayat sesar sebelumnya yang dapat mencoba melahirkan secara normal, ini disebabkan meningkatnya risiko pecahnya/robekan rahim saat persalinan, mengakibatkan kegawatan sampai kematian ibu.Ada hambatan mekanis yang menghalangi persalinan normal, misal ada myoma (benjolan oada rahim) yang menutupi jalan lahir.Janin yang sangat besar (patokan umum > 4 kg), apalagi dengan ibu diabetes, meningkatkan risiko terjadinya kemacetan bahu pada saat dilahirkan, yang bisa berakibat kematian janin.Ibu memiliki penyakit infeksi yang bisa ditularkan ke bayi pada saat bersalin, misal herpes atau HIV.Bayi kembar atau triplet.Janin berisiko tinggi (ada penyakit atau risiko perdarahan).Ibu memiliki kanker mulut rahim.Plasenta menutupi jalan lahir.Ibu memiliki penyakit yang dapat membahayakan dirinya sendiri jika mengejan pada saat persalinan.

Bagaimanapun persalinan sesar adalah tindakan operasi, yang memiliki beberapa risiko lebih tinggi dibandingkan persalinan normal. Persalinan normal tetap lebih rendah risikonya dibandingkan persalinan sesar pada kondisi normal. 


Namun ada beberapa kondisi (seperti yang saya sebutkan diatas) yang mengahruskan dilakukan tindakan sesar, dan justru persalinan normal lebih tinggi risikonya. Karena itu penting bagi ibu untuk mengerti secara jelas dan detail, dengan bertanya ke dokter apa tujuan, alasan dilakukan operasi sesar, dan mengerti bahwa tindakan ini memiliki risiko komplikasi juga. 


Beberapa risiko tindakan sesar (sama dengan operasi besar lainnya):

Risiko cedera organ intra abdomenRisiko infeksi (rahim, organ dalam perut, maupun luka operasi)Risiko perdarahan berlebih, yang dapat dilanjutkan dengan transfusi darah atau operasi ulang sampai angkat kandunganRisiko pembiusanPemulihan kondisi memakan waktu lebih lama Risiko plasenta akan mengalami kelainan pada kehamilan berikutnya yang dapat menyebabkan komplikasiRisiko operasi sesar ulang pada kehamilan berikutnya

proxy?url=http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-1q7EwFTWh_M%2FUstFfjI1xkI%2FAAAAAAAAAI8%2FKlwLz9CEbb0%2Fs1600%2FMom_newborn.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Pada saat operasi sesar, ibu tetap bisa memberikan ASI pada bayi yang baru lahir (Inisiasi Menyusui Dini) sehingga tidak mengurangi kedekatan emosional dengan bayi. Namun pada kondisi daurat hal ini tidak dapat dikerjakan. 


Setelah operasi ibu akan dipindah ke ruang pulih sadar untuk memantau kondisinya, perawatan di rumah sakit berkisar 2-3 hari. Jika kondisi ibu dan janin baik maka dapat dilakukan rawat gabung, dimana bayi diletakkan dekat dengan ibu sehingga bisa menyusui semau bayi kapanpun.


Semoga dengan tulisan ini para ibu ayah, maupun calon ibu dan ayah menjadi lebih mengerti tentang persalinan sesar, dan menyadari bahwa terkadang tindakan ini adalah pilihan terbaik. Semoga bermanfaat.  


dr. Aldika Akbar SpOG
Dokter Spesialis Kandungan Surabaya

Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial