Metode Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

Metode Kontrasepsi untuk Ibu Menyusui

Bagi ibu menyusui yang ingin mengatur jarak kehamilan/ menunda kehamilan berikutnya, seringkali timbul pertanyaan mengenai metode kontrasepsi apa yang terbaik dan aman untuk bayinya selama proses menyusui. Banyak metode yang bisa dipilih, dan tiap metode memiliki keuntungan dan kerugian masing-masing.


proxy?url=http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-kyjTRBJ4ZPo%2FUN2eWv1-xfI%2FAAAAAAAAAF8%2FX6zsd2YQ8B8%2Fs1600%2Fkb%2B06.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Sebenarnya jika ibu menyusui bayinya secara esklusif (menyusui sesering mungkin pagi dan malam, tanpa ada cairan tambahan lain untuk bayi), usia bayi masih kurang dari 6 bulan, dan masih belum menstruasi, maka 98% ibu ‘tidak subur” dan kecil kemungkinan hamil. Ini disebut Metode Amenore Laktasi, metode KB alami yang dihasilkan karena proses menyusui secara esklusif, yang berlangsung dalam 6 bulan pertama. 


Metode ini hanya berhasil jika bayi hanya minum dari susu ibu (menyusui), dan tidak mendapat tambahan cairan lainnya serta tidak minum melalui botol/dot. Kesuburan akan tertekan secara efektif jika bayi minum tiap 4 jam sekali saat pagi/siang dan 6 jam sekali saat malam (tidur). Jika hal ini bisa dijalankan dengan baik, ibu belum mendapat menstruasinya, maka kemungkinan ibu hamil hanya 2% saja. Ini adalah salah satu keuntungan dari menyusui secara esklusif, Kontrasepsi secara alamiah.


Penting untuk diingat bahwa ketika bayi sudah mendapat makanan/cairan tambahan, frekuensi menyusui mulai berkurang, ibu sudah menstruasi, maka metode ini sudah tidak efektif dan harus mulai menggunakan metode kontrasepsi lainnya.


Namun perlu diingat juga bahwa tiap manusia adalah khas, sehingga kadang terjadi penyimpangan juga. Ada ibu yang menyusui penuh namun dalam 3-4 bulan sudah menstruasi (subur) lagi, namun ada juga ibu yang bayinya sudah mulai mendapat cairan/makanan tambahan masih belum menstruasi (subur) sampai beberapa bulan bahkan bisa sampai 2 tahun. Jadi tidak perlu khawatir jika anda masih belum menstruasi setelah persalinan, karena tiap orang memiliki jam biologisnya sendiri-sendiri.


Secara umum, harus diingat ketika mulai terjadi perdarahan setelah masa nifas (40 hari setelah persalinan) baik itu banyak atau sedikit-sedikit maka itu bisa dianggap sebagai tanda telah kembalinya kesuburan ibu. Saat inilah ibu perlu memakai metode kontrasepsi lain, metode KB apa yang sebaiknya dipakai?


proxy?url=http%3A%2F%2F3.bp.blogspot.com%2F-n1Td-RA2WUU%2FUN2eX4u6XsI%2FAAAAAAAAAGA%2F0wAmZ5pSNeA%2Fs320%2Fkb%2B07.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Pilihan pertama tentu adalah metode KB non hormonal, ini meliputi: kondom, diafragma untuk wanita, spiral (IUD: Intra Uterine Device), spermisida, dan sterilisasi. Mari kita bahas satu-persatu.

 

Kondom, keuntungannya: mudah didapat, tidak ada efek pada menyusui, aman, tidak ada risiko apa-apa pada ibu dan bayi, dapat melindungi terhadap PMS (Penyakit Menular Seksual), dan cukup efektif jika dipakai dengan benar. Kerugiannya hanya kemungkinan iritasi pada vagina (sehingga mungkin perlu pemberian cairan pelumas), dan alergi (sangat sedikit kasusnya).


Diafragma, dipasang di dalam vagina, cukup efektif namun harus disertai pemberian spermisida, dan harus di”setting” ulang setelah bayi lahir dan rahim kembali ke ukuran normal.


Spermisida, cukup efektif, aman, dipakai bersama dengan diafragma, namun dapat mengiritasi vagina atau penis jika kulit sensitif/alergi.


Spiral, aman, efektif, tidak ada efek pada ibu-bayi, efek samping perdarahan menstruasi lebih banyak dan terkadang memanjang, dan bisa keluar jika pemasangan tidak tepat atau dipasang pada saat setelah kelahiran.


Sterilisasi, adalah metode kontrasepsi permanen dimana dilakukan pembedahan kecil untuk mengikat/memotong saluran telur ibu sehingga menghalangi pertemuan sel telur dan sperma. Aman, efektif, tidak ada pengaruh pada menyusui dan ASI, hanya dikerjakan pada ibu yang sudah tidak ingin hamil lagi.


Pilihan kedua adalah Metode KB Hormonal. Prinsip yang harus diketahui oleh busui sederhana, hindari KB yang mengandung hormon estrogen karena ini dapat menekan produksi ASI sehingga menganggu proses menyusui bayi ibu. Gunakan metode hormonal progestin saja, karena ini tidak menganggu produksi asi, bisa berupa: pil KB khusus (mini-pils), susuk (implant), atau injeksi (Depo-Provera). Semua metode ini efektif dan kadang malah meningkatkan produksi ASI. Pemakaian hormon ini sebaiknya paling cepat 6 minggu setelah persalinan, jika dimulai sebelum itu maka malah dapat menganggu proses produksi ASI.


proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-o7n-yKonCQw%2FUN2eQ9Ov-_I%2FAAAAAAAAAFY%2FfScgJuOHSTY%2Fs1600%2Fkb%2B02.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


proxy?url=http%3A%2F%2F4.bp.blogspot.com%2F-AHVNVEC3Bdw%2FUN2eVunl2FI%2FAAAAAAAAAFw%2FlkUOBxo6iCg%2Fs320%2Fkb%2B05.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Pilihan terakhir adalah metode KB hormonal yang mengandung estrogen, dari efektivitasnya memang inilah metode KB terbaik (kemungkinan hamil terkecil, jika dipakai dengan benar) namun seperti telah saya jelaskan di atas hal ini dapat mengurangi produksi ASI ibu. Jika memang terpaksa dan tidak ada metode kontrasepsi lain maka ini boleh dipakai dengan ibu terus menyusui. Namun perlu diperhatikan dengan teliti pertumbuhan berat badan bayi, untuk mengetahui kecukupan ASInya.


proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-tULykYmewxM%2FUN2eUqjmKdI%2FAAAAAAAAAFs%2F4O5sPLTXm4I%2Fs320%2Fkb%2B04.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*


Saya harap sekarang sudah cukup jelas mengenai pilihan metode kontrasepsi yang bisa dipakai oleh busui. So, jika ada teman-teman yang belum mengerti anda bisa membagi informasi ini.


Selamat menyusui  :)



proxy?url=http%3A%2F%2F2.bp.blogspot.com%2F-c7Til_sZ5ow%2FUN2eZFkWN1I%2FAAAAAAAAAGM%2FclC4uQT7NC0%2Fs320%2Fbreastfeeding_1.jpg&container=blogger&gadget=a&rewriteMime=image%2F*




Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial