Memilih Jenis Kelamin Bayi, Mungkinkah?

Memilih Jenis Kelamin Bayi, Mungkinkah?

Salah satu pertanyaan terbesar dari pasangan suami istri terkait kehamilan adalah bisakah memprogram memilih jenis kelamin pada bayi. Sejak lama ilmuwan, pakar kehamilan, bahkan orang awam telah mengembangkan berbagai metode untuk “memilih’ jenis kelamin bayi. Disini akan kami bahas secara singkat beberapa metode tersebut dari yang terbukti efektif sampai yang belum terbukti.


IVF (Bayi tabung) dan PGD (Preimplantation Genetic Diagnosis)

Ini adalah metode ilmiah yang terbukti paling efektif dalam memilih jenis kelamin bayi. Dengan bayi tabung sperma dan sel telur dipertemukan di luar tubuh ibu, sehingga terjadi embrio (bakal janin) yang nantinya akan “ditanam” lagi ke rahim ibu. Biasanya pada program bayi tabung akan diberi obat penyubur sehingga didapatkan bbrp sel telur sehingga bisa terjadi beberapa embrio. Dari situ bisa dilakukan PGD untuk melihat jenis kelamin calon embrio, sehingga nantinya yang dimasukkan ke rahim embrio dengan kelamin sesuai keinginan. Namun tekhnik ini masih menimbulkan kontroversi krn secara etik “membunuh” bakal janin lain dengan kelamin yang tidak sesuai keinginan.


Microsort

Ini adalah metode high=tech lainnya untuk memisahkan sperma X (penghasil anak perempuan) dan sperma Y (penghasil anak lelaki) di laboratorium, kemudian memasukkan sperma dengan inseminasi ke rahim ibu. 


Metode Shettle

Berdasarkan perbedaan sifat sperma X dan Y. Sperma Y lebih ringan dan geraknya lebih cepat dibanding sperma X. Karena itu jika mengingikan anak laki2 mesti berhubungan intim sedekat mungkin dengan saat ovulasi (saat keluarnya sel telur), untuk anak perempuan berhubungan 2-3 hari sebelum ovulasi. Menentukan kapan ovulasi bisa dengan memperhatikan suhu tubuh basal, lendir serviks, atau memakai alat tes ovulasi (ovulation kit). Shettle mengklaim keberhasilan metode ini 70-80%.


Untuk mendapat anak laki2: tidak berhubungan atau memakai kondom sampai mendekati masa ovulasi, dan hanya berhubungan sekali kira2 12 jam sebelum ovulasi, dan tidak berhubungan lagi setelahnya.


Untuk mendapat anak perempuan: dengan lebih sering berhubungan sejak awal selesai masa haid, sampai 2 hari sebelum ovulasi, setelah itu berhenti berhubungan.


Metode Whelan

Metodenya berkebalikan dengan Shettle, jika ingin anak perempuan justru berhubungan mendekati masa ovulasi, dan untuk anak laki-laki berhubungan sebelum masa ovulasi. Tidak banyak yang mengikuti metode ini sehingga tingak keberhasilan belum diketahui namun Whelan mengklaim keberhasilan 57-68%.


Diet

Ini berdasar pemikiran bahwa apa yang dimakan ibu dapat mengubah lingkunan ionik yang mempengaruhi pemilihan jenis kelamin. Secara singkat, untuk bayi laki2 disarankan diet tinggi karbohidrat, atau menambah garam. Untuk perempuan disarankan diet rendah garam dan perbanyak produk susu. 


Diet untuk anak laki2: Daging, sosis, ikan (terutama kering dan diasinkan), kentang, nasi, pasta,  sayur segar, pisang, apokat, buah segar, roti, madu, selai, sop dan minuman bersoda.


Diet untuk anak perempuan: produk susu dan mentega, yogurt, es krim, jus buah segar, nasi, pasta, dan tidak menambahkan garam di makanan.


Douching

Douching ini artinya membershikan kemaluan istri dengan cairan khusus untuk mempengaruhi keasaman vagina. Kondisi Sperma Y lebih cocok dengan suasana basa, dan sperma X lebih ccok dengan suasana asam. Jadi untuk mendapat anak laki2 disarankan menambahkan cairan air dengan baking soda, dan untuk anak perempuan menambah campuran air dan cuka atau lemon. Namun metode ini sudah tidak disarankan lagi, krn risiko infeksi pada kemaluan.


Dari metode2 tersebut tidak ada yang menjamin 100% keberhasilan, sehingga pada akhirnya hadirnya bayi yang sehat jauh lebih penting bagi suami istri, daripada hanya mendapat jenis kelamin sesuai keinginan. Semoga bermanfaat.


dr. Aldika Akbar SpOG


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial