Infeksi Virus Zika dalam Kehamilan

Infeksi Virus Zika dalam Kehamilan

Virus zika adalah bagian dari famili virus lain seperti demam berdarah, penyakit kuning, dan penyakit chikungunya. Virus ini ditularkan utamanya melalui nyamuk Aedes Aegypti, juga melalui hubungan seksual, dan transfusi darah. Virus ini pertama kali muncul di Uganda (Afrika) pada tahun 1947, pada kera yang kemudian menyebar kepada manusia. Sejak itu virus ini terus menyebar di seuruh dunia sampai pada 2015 virus ini mewabah di Brazil, dan saat ini sudah mencapai kawasan Asia Pasifik, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia sendiri virus ini sudah mulai masuk, dengan ditemukannya seorang laki-laki yang positif terjangkit zika di Jambi (2016). 


Infeksi zika ditandai dengan gejala khas infeksi virus: demam ringan, mata merah dan iritasi, sakit kepala, sakit pada persendian, dan ruam pada kulit. Beberapa studi menunjukkan virus ini dapat menimbulkan penyakit saraf berat, sindroma Guillain-Barre, yang ditandai dengan kelupumuhan seluruh otot tubuh. Infeksi zika patut diwaspadai pada orang-orang yang baru saja berpergian di negara endemik. Virus ini jarang menyebabkan kematian, atau kejadian yang fatal. Yang justru paling penting pada infeksi ini adalah jika menyerang ibu hamil.


img-1493249587.jpeg

Banyak data telah mengaitkan infeksi zika pada ibu hamil dengan terjadinya mikrosefali (microcephaly) pada janinnya. Mikrosefali adalah janin yang memiliki ukuran kepala jauh lebih kecil dari normal, karena otak mereka tidak berkembang di dalam rahim. Sebagian kasus mikrosefali berakibat kematian janin, baik dalam kandungan atau setelah lahir. Ini disebabkan fungsi otak yang tidak berkembang dan tidak mampu mengontrol kerja organ vital tubuh. Sebagian kecil bayi yang bisa bertahan hidup akan mengalami gangguan kecerdasan, dan perkembangan tubuh. Selain itu zika juga menyebabkan komplikasi kehamilan seperti: keguguran, bayi meninggal dalam rahim, kelahiran prematur, bayi kecil, dan gangguan penglihatan janin. 


img-1493249570.jpeg

(Gambar diambil dari Nymag.com - Dec 2016)


Virus ini diketahui menetap dalam darah selama satu pekan sejak awal terinfeksi dan dapat ditularkan melalui hubungan seksual. Virus ini juga dapat bertahan selama 2 pekan dalam sperma. WHO menganjurkan pasangan untuk memakai kondom atau tidak berhubungan sama sekali selama 2 bulan dengan pasangan yang dicurigai terkena zika (ada riwayat pergi ke daerah endemis zika). Dalam 2 bulan diharapkan virus zika sudah “dibersihkan” dari tubuh.


Sejauh ini belum ditemukan obat yang khusus untuk menyembuhkan infeksi zika, hanya berupa terapi suportif untuk meningkatkan kekebalan tubuh sehingga virus dibersihkan secara alamiah oleh tubuh kita sendiri. Cara pencegahan virus zika adalah dengan mengurangi risiko terpapar nyamuk Aedes Aegypti pada daerah endemis:

  • Menggunakan pengusir nyamuk
  • Memakai kaus lengan panjang
  • Menutup jendela dan pintu
  • Memakai selambu pada tempat tidur
  • Lakukan 3M: Mengubur barang bekas yang bisa menjadi wadah air, Menguras bak kamar mandi, dan Menutup ember dan tempat penampungan air. 


Selain itu hindari berpergian ke daerah endemis zika, dan hubungan seksual yang aman (atau tidak berhubungan sama sekali untuk sementara waktu) dengan orang yang dicurigai mengidap zika. Perhatian khusus wajib ditujukan untuk ibu hamil, karena risiko infeksi virus ini pada bayi sangat berbahaya.


Semoga bermanfaat,



dr. Aldika Akbar SpOG(K)


Komentar

Belum Ada Komentar

Tambahkan Komentar

Testimonial